Disclaimer: Utakata Hanabi ©
Ryo-Supercell; Utakata Hanabi, deshou? © Gasairine aka #Md
Summary: “Maaf saja jika aku
adalah seseorang yang gagal. Namun bukankah kenangan kita berdua
terlalu indah untuk diabaikan? Maka dari itu, kembalilah lagi padaku,
Natsume-senpai.”
Utakata hanabi, deshou?
Ssshiuuuu—DAR!
Aoi mendengus sembari menatap jendela
kamarnya yang terbuka. Malam hari di akhir musim panas. Festival
hanabi, huh? Merepotkan. Berisik. Mengganggu ketenangan.
“Ahahaha!” Gelak tawa ayah dan
ibunya—yang ternyata ikut menonton hanabi—terdengar memekakkan
telinga.
Tch. Gadis itu beranjak dari tempat
tidurnya dan memukul jendela, kasar. “Aku tidak peduli dengan
hana—”
Pshuuuu—DAR! DAR! DAR!
3 buah mahkota brokat yang amat besar
mekar tepat di depan matanya. Aoi terbelalak. Hanabi ini, aroma khas
musim panas ini, kenangan ini... Senpai? Apa? Jangan bodoh, Aoi! Lucu
sekali kau masih mengingatnya. Bukankah ia telah pergi meninggalkanmu
setahun yang lalu? Tepat setelah festival hanabi yang kalian datangi
berdua. Berdua saja. Ingat?
“Hmf,” Aoi menyunggingkan seulas
senyum penuh kepedihan. Jadi ini yang membuatmu membenci festival
hanabi, heh? Konyol.
Konna
kimochi shiranakya yokatta
Mou
nidoto aeru kotomo
Nai
no ni,
Aitai,
aitai nda...
Better
I just don’t know these feelings
Though
I know I can’t even meet you anymore
But,
I
wanna, I wanna meet you...
Diulurkan tangannya ke atas. Mencoba
menggapai beberapa bunga api yang tampak megah menguasai langit musim
panas. “Pshuuuuu—“ Netranya berkilat girang kala dihadapannya
tampak meluncur lepas sebuah kembang api, “—DARR!”
Tok tok tok.
“Aoi?”
Aoi tersentak. Bukan, bukan karena
ketukan yang tiba-tiba. Tapi lebih kepada suara yang memanggilnya.
Senpai? Dia... disini? Dia disini? Natsume-senpai disini?
“M-masuklah! Maaf kamarku berantakan dan sempit!” Seru Aoi. Ia
telah menyisir rambut sebelumnya.
Pintu terbuka. Pelan, sampai akhirnya
sebuah kepala mengintip, “Apa aku benar-benar boleh masuk?”
Natsume tertawa kecil.
Manik sebiru langit Aoi melebar sedikit
demi sedikit. Suara itu... Mata itu... Natsume-senpai disini! Hatinya
bersorak kegirangan. “Tentu! Kesinilah!” Aoi menggapai tangan
Natsume dan menggiringnya menuju jendela yang terbuka, memperlihatkan
banyak mahkota brokat yang saling bersahutan, saling berlomba
memamerkan keindahannya.
Namun Natsume hanya diam terpaku
memandang isi dari kamar Aoi, bukan terpaku melihat hanabi.
“Kamarmu...” hening sejenak. “Kamarmu luas sekali. Tidak
seperti kamarku.”
“E-eh?” Kedua alis Aoi
menyatu—heran dengan pernyataan (mantan) kekasihnya. Setahunya,
keluarga Natsume adalah keluarga terpandang di kotanya. Kenapa...
kenapa kamarnya sempit? “Jangan berbohong, Senpai. Sudahlah, lebih
baik melihat hanabi ini. Bagus kan? Seperti tahun lalu...”
“...Tahun lalu?” Natsume
menundukkan kepalanya, menatap mata Aoi. Yang ditatap hanya termangu.
“Gomennasai, Aoi. Tahun lalu aku—“
“Iie, daijoubu.” Bohong. Aoi tahu
dia berbohong pada dirinya sendiri. Padahal dia tersakiti. Padahal
dia ingin memukul Natsume keras-keras. Uh. Tapi tidak bisa.
Natsume menggenggam tangan Aoi
erat-erat. “Yakin kau tidak ingin tahu aku kemana tahun lalu?”
Aoi menatap manik almond milik Natsume
sebelum menghela nafas dalam-dalam. “Aku... Yakin.”
“Baguslah.” Dan Natsume melayangkan
pandangannya ke arah langit.
Keduanya tenggelam dalam pikirannya
masing-masing. Lama sekali.
Sambil menatap hanabi yang bermekaran
di langit malam musim panas, mereka bergandengan erat.
Mou
sukoshi de, natsu ga owaru
Futto,
setsunaku naru...
Just
a little while, summer will ends
That’s
really make my heart hurts
Dalam keheningan, Aoi menyadari
sesuatu. Tangan yang menggenggam tangannya terasa dingin menusuk. Uh
oh, gawat. Wajah Natsume juga pucat. Apa ini akibat angin malam yang
menerpa tubuh Natsume terlalu lama? Apa Natsume baik-baik saja?
“Senpai kedinginan? Jendelanya kututup saja ya?”
“Jangan. Aku suka ini. Sudah lama aku
tidak merasakan angin sesegar ini.”
Aoi mengernyit, “Tapi senpai,
tanganmu dingin. Kau juga pucat. Benar tidak apa-apa?”
Natsume hanya diam. Ia tetap menatap
keluar.
Merasa tidak akan mendapat jawaban, Aoi
mendesah lelah. Ditopangnya dagunya dengan tangan kiri. Bosan.
Lalu matanya menangkap sesuatu yang
terbang.
Selembar kertas.
Refleks, ditangkapnya kertas itu.
Koran. Koran tahun lalu. Tidak penting. Aoi meletakkan koran itu di
tempat tidurnya, lalu ia berbaring diatasnya. Ia memejamkan mata
sebentar, menikmati sepoi angin yang membelai wajahnya lalu
bertanya, “Nee senpai, kau masih ingat tentang ‘kita’?” Ya.
Kita. Bukan aku. Bukan kau. Tapi kita. Obeteru ka?
Terdengar suara Natsume yang menahan
tawa. “Pfft, tidak mungkin aku bisa melupakanmu. Dan kenangan kita
kala itu.”
Aoi mengumpulkan segenap keberaniannya,
“Maaf saja jika aku adalah seseorang yang gagal. Namun
bukankah kenangan kita berdua terlalu indah untuk diabaikan? Maka
dari itu, kembalilah lagi padaku, Natsume-senpai!”
Tanpa membalikkan badannya, tanpa
menolehkan kepalanya, Natsume berucap, “Tidak bisa. Maaf, Aoi.”
Aoi berbalik, memunggungi Natsume,
“Kenapa? Bukankah saat itu kau telah berjanji menciumku? Apa kau
lupa?” Diremasnya koran itu perlahan.
Natsume terdiam. Merasa bersalah, huh?
Sederet kalimat yang ada di halaman
paling depan koran itu membuat Aoi tertarik. “Kecelakaan di malam
festival hanabi...” gumamnya. Koran tahun lalu. Malam festival
hanabi. Kecelakaan. Pertanda buruk...
‘...Sungguh mengenaskan, seorang
anak lelaki terkena ledakan kembang api yang gagal diluncurkan pada
festival. Korban diketahui bernama Junichi Natsume (17) mengalami
luka berat dan meninggal dunia pada saat dilarikan ke rumah sakit...”
JUNICHI NATSUME? SENPAI?
NATSUME-SENPAI? Jantung Aoi mendadak terasa berhenti berdetak. LALU
YANG INI SIAPA?
Panik, Aoi cepat-cepat membalik
badannya dan menatap Natsume, “Senpai?”
“Ahaha,”
tte
Waraiatte
“Suki
dayo,” tte
Kissu
o shita...
“Ahaha,”
We
laughed together
“I
love you,” we said
And
we kissed...
Natsume menoleh. “Apa?”
Aoi mendadak lemas. Itu bukan
Natsume-senpai! Wajahnya... Suaranya... Matanya...
Natsume mendekat. Kulitnya berubah.
Merah. Hitam. Bekas terbakar. Bau hangus memenuhi indra penciuman
Aoi. Salah satu mata Natsume jatuh menggelinding di dekat kaki Aoi.
Dari mulutnya keluar beberapa ulat dan belatung-belatung menjijikkan.
Lalu tangan kanan Natsume bergerak perlahan menuju rambut Aoi,
mengelusnya. Tangan yang sangat kurus tanpa daging. Bagai hanya ada
tulang dan kulit. Tidak lupa lebam-lebam biru dipadu dengan kulit
yang mengelupas jatuh, “Kau ingin kita berciuman?” Ia pun makin
mendekatkan wajahnya.
Aoi berteriak, “Tidak! Aku tidak
ingin!”
“Dasar tsundere.” Natsume mendengus
geli. Seekor lalat terbang keluar dari lubang hidungnya. “Kau tidak
ingin ikut aku? Aku sendirian dan kesepian...” Ia mendekatkan
bibirnya ke bibir Aoi.
YA TUHAN.
Aoi merasa ingin muntah saat akhirnya
bibir mereka bersentuhan. Mereka berciuman.
End
0 komentar: