Utakata Hanabi, deshou?

Posted by : Ditacchi
Rabu, 15 Mei 2013

Disclaimer: Utakata Hanabi © Ryo-Supercell; Utakata Hanabi, deshou? © Gasairine aka #Md
Summary: “Maaf saja jika aku adalah seseorang yang gagal. Namun bukankah kenangan kita berdua terlalu indah untuk diabaikan? Maka dari itu, kembalilah lagi padaku, Natsume-senpai.”

Utakata hanabi, deshou?
Ssshiuuuu—DAR!
Aoi mendengus sembari menatap jendela kamarnya yang terbuka. Malam hari di akhir musim panas. Festival hanabi, huh? Merepotkan. Berisik. Mengganggu ketenangan.
“Ahahaha!” Gelak tawa ayah dan ibunya—yang ternyata ikut menonton hanabi—terdengar memekakkan telinga.
Tch. Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dan memukul jendela, kasar. “Aku tidak peduli dengan hana—”
Pshuuuu—DAR! DAR! DAR!
3 buah mahkota brokat yang amat besar mekar tepat di depan matanya. Aoi terbelalak. Hanabi ini, aroma khas musim panas ini, kenangan ini... Senpai? Apa? Jangan bodoh, Aoi! Lucu sekali kau masih mengingatnya. Bukankah ia telah pergi meninggalkanmu setahun yang lalu? Tepat setelah festival hanabi yang kalian datangi berdua. Berdua saja. Ingat?
“Hmf,” Aoi menyunggingkan seulas senyum penuh kepedihan. Jadi ini yang membuatmu membenci festival hanabi, heh? Konyol.
Konna kimochi shiranakya yokatta
Mou nidoto aeru kotomo
Nai no ni,
Aitai, aitai nda...
Better I just don’t know these feelings
Though I know I can’t even meet you anymore
But,
I wanna, I wanna meet you...
Diulurkan tangannya ke atas. Mencoba menggapai beberapa bunga api yang tampak megah menguasai langit musim panas. “Pshuuuuu—“ Netranya berkilat girang kala dihadapannya tampak meluncur lepas sebuah kembang api, “—DARR!”
Tok tok tok.
“Aoi?”
Aoi tersentak. Bukan, bukan karena ketukan yang tiba-tiba. Tapi lebih kepada suara yang memanggilnya. Senpai? Dia... disini? Dia disini? Natsume-senpai disini? “M-masuklah! Maaf kamarku berantakan dan sempit!” Seru Aoi. Ia telah menyisir rambut sebelumnya.
Pintu terbuka. Pelan, sampai akhirnya sebuah kepala mengintip, “Apa aku benar-benar boleh masuk?” Natsume tertawa kecil.
Manik sebiru langit Aoi melebar sedikit demi sedikit. Suara itu... Mata itu... Natsume-senpai disini! Hatinya bersorak kegirangan. “Tentu! Kesinilah!” Aoi menggapai tangan Natsume dan menggiringnya menuju jendela yang terbuka, memperlihatkan banyak mahkota brokat yang saling bersahutan, saling berlomba memamerkan keindahannya.
Namun Natsume hanya diam terpaku memandang isi dari kamar Aoi, bukan terpaku melihat hanabi. “Kamarmu...” hening sejenak. “Kamarmu luas sekali. Tidak seperti kamarku.”
“E-eh?” Kedua alis Aoi menyatu—heran dengan pernyataan (mantan) kekasihnya. Setahunya, keluarga Natsume adalah keluarga terpandang di kotanya. Kenapa... kenapa kamarnya sempit? “Jangan berbohong, Senpai. Sudahlah, lebih baik melihat hanabi ini. Bagus kan? Seperti tahun lalu...”
“...Tahun lalu?” Natsume menundukkan kepalanya, menatap mata Aoi. Yang ditatap hanya termangu. “Gomennasai, Aoi. Tahun lalu aku—“
“Iie, daijoubu.” Bohong. Aoi tahu dia berbohong pada dirinya sendiri. Padahal dia tersakiti. Padahal dia ingin memukul Natsume keras-keras. Uh. Tapi tidak bisa.
Natsume menggenggam tangan Aoi erat-erat. “Yakin kau tidak ingin tahu aku kemana tahun lalu?”
Aoi menatap manik almond milik Natsume sebelum menghela nafas dalam-dalam. “Aku... Yakin.”
“Baguslah.” Dan Natsume melayangkan pandangannya ke arah langit.
Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Lama sekali.
Sambil menatap hanabi yang bermekaran di langit malam musim panas, mereka bergandengan erat.
Mou sukoshi de, natsu ga owaru
Futto, setsunaku naru...
Just a little while, summer will ends
That’s really make my heart hurts
Dalam keheningan, Aoi menyadari sesuatu. Tangan yang menggenggam tangannya terasa dingin menusuk. Uh oh, gawat. Wajah Natsume juga pucat. Apa ini akibat angin malam yang menerpa tubuh Natsume terlalu lama? Apa Natsume baik-baik saja? “Senpai kedinginan? Jendelanya kututup saja ya?”
“Jangan. Aku suka ini. Sudah lama aku tidak merasakan angin sesegar ini.”
Aoi mengernyit, “Tapi senpai, tanganmu dingin. Kau juga pucat. Benar tidak apa-apa?”
Natsume hanya diam. Ia tetap menatap keluar.
Merasa tidak akan mendapat jawaban, Aoi mendesah lelah. Ditopangnya dagunya dengan tangan kiri. Bosan.
Lalu matanya menangkap sesuatu yang terbang.
Selembar kertas.
Refleks, ditangkapnya kertas itu. Koran. Koran tahun lalu. Tidak penting. Aoi meletakkan koran itu di tempat tidurnya, lalu ia berbaring diatasnya. Ia memejamkan mata sebentar, menikmati sepoi angin yang membelai wajahnya lalu bertanya, “Nee senpai, kau masih ingat tentang ‘kita’?” Ya. Kita. Bukan aku. Bukan kau. Tapi kita. Obeteru ka?
Terdengar suara Natsume yang menahan tawa. “Pfft, tidak mungkin aku bisa melupakanmu. Dan kenangan kita kala itu.”
Aoi mengumpulkan segenap keberaniannya, Maaf saja jika aku adalah seseorang yang gagal. Namun bukankah kenangan kita berdua terlalu indah untuk diabaikan? Maka dari itu, kembalilah lagi padaku, Natsume-senpai!”
Tanpa membalikkan badannya, tanpa menolehkan kepalanya, Natsume berucap, “Tidak bisa. Maaf, Aoi.”
Aoi berbalik, memunggungi Natsume, “Kenapa? Bukankah saat itu kau telah berjanji menciumku? Apa kau lupa?” Diremasnya koran itu perlahan.
Natsume terdiam. Merasa bersalah, huh?
Sederet kalimat yang ada di halaman paling depan koran itu membuat Aoi tertarik. “Kecelakaan di malam festival hanabi...” gumamnya. Koran tahun lalu. Malam festival hanabi. Kecelakaan. Pertanda buruk...
...Sungguh mengenaskan, seorang anak lelaki terkena ledakan kembang api yang gagal diluncurkan pada festival. Korban diketahui bernama Junichi Natsume (17) mengalami luka berat dan meninggal dunia pada saat dilarikan ke rumah sakit...”
JUNICHI NATSUME? SENPAI? NATSUME-SENPAI? Jantung Aoi mendadak terasa berhenti berdetak. LALU YANG INI SIAPA?
Panik, Aoi cepat-cepat membalik badannya dan menatap Natsume, “Senpai?”
Ahaha,” tte
Waraiatte
Suki dayo,” tte
Kissu o shita...
Ahaha,”
We laughed together
I love you,” we said
And we kissed...
Natsume menoleh. “Apa?”
Aoi mendadak lemas. Itu bukan Natsume-senpai! Wajahnya... Suaranya... Matanya...
Natsume mendekat. Kulitnya berubah. Merah. Hitam. Bekas terbakar. Bau hangus memenuhi indra penciuman Aoi. Salah satu mata Natsume jatuh menggelinding di dekat kaki Aoi. Dari mulutnya keluar beberapa ulat dan belatung-belatung menjijikkan. Lalu tangan kanan Natsume bergerak perlahan menuju rambut Aoi, mengelusnya. Tangan yang sangat kurus tanpa daging. Bagai hanya ada tulang dan kulit. Tidak lupa lebam-lebam biru dipadu dengan kulit yang mengelupas jatuh, “Kau ingin kita berciuman?” Ia pun makin mendekatkan wajahnya.
Aoi berteriak, “Tidak! Aku tidak ingin!”
“Dasar tsundere.” Natsume mendengus geli. Seekor lalat terbang keluar dari lubang hidungnya. “Kau tidak ingin ikut aku? Aku sendirian dan kesepian...” Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Aoi.
YA TUHAN.
Aoi merasa ingin muntah saat akhirnya bibir mereka bersentuhan. Mereka berciuman.

End

0 komentar:

Copyright © 2012 Ditacchi's story | Another Theme | Designed by Johanes DJ